Showing posts with label east java. Show all posts
Showing posts with label east java. Show all posts

Friday, December 28, 2012

On The Way Home

Here comes the motion!


On The Way Home from Aditya Darmawan on Vimeo.

A 'coming home' journey to find peace and feels-like-home feeling. An hour and a half walking finding a place called home. Enjoy!

Video ini merupakan versi visual dari postingan sebelumnya. Nah, seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, saya nggak banyak memotret. Tapi sebenarnya saya 'sibuk' mendokumentasikan perjalanannya via gambar bergerak.

Tentunya dibandingkan karya-karya videographer serius macam Giri Prasetya ini tidak ada apa-apanya, tapi karya-karya beliaulah yang menginspirasi saya.

Cuma kegiatan iseng untuk meramaikan promosi negeri paling indah ini pada dunia.

Special thanks buat Bramas Firmandi (@bramas_firmandi) yang sudah mau saya jadikan objek berjalan di projek dadakan kali ini.

Thursday, December 27, 2012

Setengah Telanjang di Tengah Hutan

Berawal dari gatalnya kaki ingin melangkah dan ajakan dari seorang teman. Beberapa hari yang lalu saya blusukan ke tengah hutan. Perjalanan iseng kali ini bersifat 'fun-trekking'.

Berjarak cuma sekitar satu jam perjalanan dari Surabaya, kami berangkat pagi-pagi sekali. Pukul enam pagi kami berangkat dari rumah.

Menuju kaki Gunung Arjuna-Welirang dengan hanya berbekal beberapa bungkus roti dan beberapa botol air mineral selama pendakian.

Sebenarnya kami tidak menuju Gunung Welirang, karena memang hanya ingin jalan santai. Tujuan kami mengarah ke Air Terjun Alap-alap.

Dengan kaos, celana pendek kargo, dan sepatu trekking, penjelajahan dimulai. Teman saya menyarankan tidak perlu membawa kamera, tapi saya tetap membawanya.

Karena kali ini medannya menembus hutan, jadi saya membawa peralatan seadanya. Kamera dan tripod dengan tas selempang dilengkapi rain cover.

Dengan jalur trekking yang tidak begitu sulit, tetapi penuh dengan bebatuan besar mengharuskan kami sedikit melakukan manuver.

Tiba-tiba saja..

"krek.."

Suara itu timbul ketika saya mencoba melewati pohon besar yang jatuh melintang.

Saya menoleh kebawah. Terlihat pangkal paha saya terbuka.

Yap. Celana saya sobek. Dari ujung retsleting sampai hampir ke paha. Dan saya langsung muram. Karena itu celana kesayangan yang biasa dipakai trekking dan jalan-jalan santai. Karena celana itu nggak murah. Hemp.

Memang.. Bentuk badan saya sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Terkadang untuk hal-hal seperti ini dibutuhkan anggaran khusus untuk sebuah outfit outdoor, dan untuk faktor kenyamanan. Haha. :|

Baru setengah perjalanan dan saya masih dongkol. Semriwing merasakan semilir angin yang masuk lewat sobekan celana menuju bagian-bagian terlarang.

Karena banyak pohon melintang, adegan meloncat dan melewati pohon besar terulang lagi. Begitu juga makin sering terdengar suara-suara "krek" yg lain.

Saya menghela nafas, sambil pasrah merelakan celana kesayangan yang belahannya hampir bersaing dengan rok-rok pramugari maskapai penerbangan.

Setengah telanjang saya mengarungi hutan tersebut. Untungnya tidak sering berpapasan dengan trekker lain.
Satu jam kemudian, dengan sedikit berputar-putar dan tersesat karena lupa jalan. Akhirnya kami sampai.

Air Terjun Alap-alap.
Alap-alap berasal dari nama burung pemangsa, adalah nama lain burung Elang Jawa.
Air terjun ini disebut begitu karena konon katanya di sekitaran air terjun ini dulunya banyak terdapat habitat Elang Jawa.
Air terjun yang lebih mirip pancuran ini terpampang megah di depan kami.
Saya kemudian mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kaki dan sedikit meratapi nasib celana saya.

Karena tempatnya yang tidak mudah dijangkau, Air Terjun tersebut tidak begitu ramai. Hanya ada kami dan beberapa orang di bebatuan bawah yang sedang duduk mengobrol diantara batu-batu raksasa itu.

Pagi itu langit sedang mendung, tapi untungnya saya masih bisa mendapat gambar yang lumayan. Karena tidak berapa lama, langit semakin gelap. Tanda hujan akan datang.

Kami segera bergegas meninggalkan tempat, ketika kami akan pergi, beberapa anak muda datang bergerombol. Mereka langsung saja membuka baju dan mandi disana.

Saat kami kembali turun, sambil menyapa para pendaki di bebatuan tadi, kami bertukar cerita.
Terdengar kabar bahwa beberapa bulan yang lalu ada serombongan anak-anak SMA yang sedang mandi di air terjun tersebut dan salah satu temannya tergelincir di antara bebatuan raksasa itu dan terjatuh hingga akhirnya nyawanya tidak terselamatkan.

Kejadian tersebut meninggalkan pesan, bahwa kita tetap harus berhati-hati dan tidak banyak bercanda berlebihan di tempat-tempat seperti ini.

Setelah sampai di bawah, kami beristirahat di warung, memesan semangkok mie instan sebagai ganti energi yang terbuang selama pendakian sambil menikmati suasana asri kaki gunung dengan dikelilingi barisan pohon pinus yang menemani makan siang kami.

Dan adegan makan siang itu mengakhiri perjalanan singkat yang 'membekas' tersebut.

Nasib celana saya. :(
NB:
Di perjalanan kali ini saya tidak banyak memotret. Karena merasa ribet harus memasukkan dan mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tas, juga karena medannya yang lumayan berat jadi saya menganut ungkapan "save the best for the last". Selain demi keamanan dan keselamatan kamera saya juga. Huehehe.

Thursday, November 29, 2012

Catatan Perjalanan : Semalam Di Perbatasan

Purnama yang enggan beranjak. Sarangan.
Februari 2012.

Malam itu di kampus biru. Institut Teknologi Sepuluh November. Mantan kampus saya yang penuh kenangan. Entah bagaimana awalnya saya bisa berada di kampus tersebut, malam itu.

Adalah Bram, sahabat saya bertualang yang waktu itu sedang gundah gulana -karena entah masalah apa, saya lupa-, dia secara tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat.

"Bromo yuk!", kata Bram.
"Malam ini?", saya menimpali.
"Masa tahun depan..", ujarnya setengah sewot.
"Boleh.. Tapi, bosen ah. Em, Bali? Atau Bandung? Kita jenguk Amel!", saya memberi ide baru, sekalian mengunjungi teman masa SMA kami, yang lama tidak pulang karena sekarang kerja disana.
"Boleh sih, tapi entahlah, rasanya aneh. Ambil yang medium aja. Sarangan?? Kan ente belum pernah tuh", katanya sambil melontarkan tantangan balik.

Singkat kata, malam itu kami berangkat ke Danau Sarangan.

Setelah melengkapi perbekalan dan peralatan, berangkatlah kami memacu Tigi. Ya, Tigi selalu diandalkan mengarungi perjalanan impulsif kami di malam hari. Dengan perkiraan kami akan sampai dalam waktu 5 jam. Seingat saya kami berangkat pukul 11.00 malam.

Di tengah jalan, kami berhenti sejenak untuk mencari makan. Kami berdua berangkat dalam kondisi perut kosong. Jadilah kami berhenti di sebuah warung nasi pinggir jalan, warung ini sudah mendekati daerah tujuan.  Sembari kami menunggu makanan dimasak, tiba-tiba muncul seorang bapak-bapak paruh baya yang menanyakan tujuan pada si pemilik warung. Beliau menanyakan arah tujuan.

Saya tidak begitu mengerti, intinya bapak itu menanyakan apakah benar jalan ini menuju ke arah barat. Sebenarnya beliau menyebutkan nama suatu tempat , saya lupa, yang saya ingat waktu itu, Bram ikut membantu bapak paruh baya tersebut untuk memberi petunjuk ke tempat yang dituju, karena dia tahu daerah itu.

Nah, satu hal yang membuat saya takjub adalah ketika Bram iseng-iseng bertanya kemana tujuan bapak itu. Dengan entengnya beliau menjawab akan menuju Pulau Sumatera. Sambil menata kembali konsentrasi saya, saya dengan spontan mengulangi apa yg dikatakan bapak tersebut, " Sumatera, pak?".

Beliau hanya tersenyum. Saya memandangi kendaraannya yang seadanya, sebuah motor bebek yang kalau tidak salah keluaran tahun 90an, dengan plat nomor belakang sedikit miring karena salah satu bautnya sudah hilang. Beliau yang hanya memakai jaket kulit, celana kain, dan sandal ala bapak-bapak yang amat sangat tidak mencerminkan outfit untuk menjelajahi jalanan. Jangankan antar pulau, antar kota pun tidak. Dandanan beliau hanya seperti ketika ingin pergi ke suatu tempat yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Tidak lama setelah bapak itu pergi, pesanan kami datang. Kami segera menghabiskan apa yang kami pesan, setelah itu bergegas melanjutkan perjalanan sebelum matahari menampakkan wujudnya, karena waktu itu kami bertekad menikmati munculnya matahari di dataran tinggi tempat danau itu berada.

Dua jam kemudian kami sampai di dataran tinggi tersebut. Memang bukan di danaunya, karena danau itu berada di tengah-tengah dinding-dinding pegunungan, jadi kami mencari spot yang asik untuk duduk dan memandangi matahari tersebut. Sewaktu kami sampai, bahkan kami masih bisa memandangi indahnya bulan purnama malam itu (foto di awal postingan adalah foto bulan ketika kami datang dan matahari belum nampak).

Sang surya menampakkan dirinya malu-malu.

Dan sampailah kami, menanti pertunjukkan pagi, kemunculan sang surya. Sejenak kami terdiam, menunggu penguasa siang menampakkan wajahnya.

Ketika pertunjukkan berakhir, kami melanjutkan perjalanan.

Akhirnya sampailah kami di tepi danau. Karena berniat untuk bermalam, kami segera mencari penginapan, karna memang datang dengan low budget, kami mencari tempat bermalam yang nyaman dan murah.

Kilatan senja yang menyambut ketika keluar dari pintu kamar.
Kami mendapatkan tempat menginap. Setelah beristirahat sejenak kami berencana untuk melanjutkan perjalanan.

Karena lokasi Sarangan berada di lereng Gunung Lawu yaitu perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan tidak jauh dari sini terdapat Air Terjun Grojogan Sewu.

Sisi impulsif kami muncul. Sempat terlintas untuk menyapa kota Solo yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Bahkan sempat terpikir kami akan melanjutkan perjalanan ke kota Yogyakarta siang itu.

Setelah berganti pakaian kami berangkat. Kali ini kami memakai celana pendek dan kaos untuk menjelajahi provinsi sebelah.

Ya, ini lereng Gunung Lawu, dan tentunya tempatnya 'sejuk'. Bertandang ke lereng gunung dengan hanya bermodal celana pendek dan kaos saja tidak kami sarankan untuk teman-teman. Karena ternyata, di daerah lereng gunung terkadang terjadi fenomena alam yang datang tiba-tiba, yang biasa disebut hujan.

Untungnya hujan siang itu tidak terlalu deras, hanya gerimis, tetapi angin yang bertiup cukup membuat kami berdua berpelukan di atas motor dengan mesranya. Haha

Berpose di depan pintu masuk jalur pendakian Gunung Lawu.
Sesampainya di area Air Terjun Grojogan Sewu, kami harus menuruni beberapa anak tangga untuk mencapai air terjun tersebut. Air terjun setinggi 80 meter tersebut sedang ramai, meskipun bukan hari libur. Beberapa kumpulan anak muda sedang bermain-main disana, adapun beberapa keluarga yang siang itu sedang menikmati suasana air terjun sambil berfoto disana sini.

Bram dibawah guyuran Grojogan Sewu.
Saat itu saya tidak berani lebih dekat lagi, alasannya karena saya khawatir dengan kamera saya. Karena tidak weather sealed, jadi saya tetap menjaga jarak. Sempat saya mendekat, dan sedikit percikan air membasahi kamera saya, niatnya untuk mengambil pemandangan tersebut dalam slow speed, akan tetapi saya mengurungkan niat tersebut.

Selain karena banyaknya orang yang sedang bermain disana-sini, yang akan memenuhi frame saya dengan gambar-gambar mereka selagi mengambil gambar air terjun, saya khawatir akan terpeleset, karena waktu itu sepatu saya bukan sepatu trekking. Mau dilepas kok nanti ribet, jadinya ya saya pake aja.. Hehe

Satu jam lebih kami berada di air terjun tersebut. Setelah Bram puas bermain air demi menghilangkan gundah gulananya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Ketika hendak akan berjalan, hujan rintik kembali turun. Dan setelah pemikiran panjang, karena kami tidak membawa mantel hujan, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Merelakan Yogyakarta dan Solo untuk tidak kami singgahi hari ini. 

Pukul 4 sore kami sampai lagi di penginapan. Keadaan langit sore itu masih cerah, karena sedikit lelah saya memutuskan mengambil pemandangan Telaga Sarangan keesokan paginya.

Bram ber-levitasi.
Ditengah perjalanan pulang ke penginapan, ketika langit kembali cerah kami sempat beristirahat sejenak sambil memandangi hamparan sawah yang menenangkan.

Hamparan sawah dalam balutan miniature effect.
Alam hijau di tengah perjalanan kami kembali ke penginapan.
Keesokan paginya ketika hendak mengambil gambar danau, cuaca tidak bersahabat. Langit mendung, dan gelap, padahal sudah jam tujuh pagi. Saya menunggu sampai jam delapan, langit tak kunjung cerah, akhirnya saya memutuskan untuk pulang, tanpa harus mengabadikan danau tersebut. Dalam hati saya berkata, danau ini tidak akan kemana-mana. Saya akan kembali lagi nanti.

Setelah mengecek kondisi Tigi yang harusnya waktunya servis di bengkel dekat penginapan, kami melanjutkan perjalanan pulang. Berdoa agar Tigi baik-baik saja. :)

Bram dengan jurus 'ka-me-ha-me-ha'-nya.

Saya dan matahari dengan baju zirah andalan :p

Pemandangan siang hari di depan kamar penginapan.

Masih di depan kamar, dengan sedikit menoleh ke kanan.

Bram dengan background lukisan Sang Maha Pencipta.
NB:
Postingan ini hampir dua minggu mengendap di dalam draft, karena akhir-akhir ini lebih sibuk dengan tugas kuliah. Sore ini ketika saya tidak sengaja blogwalking ke tempat arma, dia lagi ngadain kuis karena blognya udah 2 tahun mengudara. Nah, tiba-tiba saya inget tentang postingan ini. Akhirnya saya lanjutkan dan saya ikutkan ke kuis tersebut. Iseng aja. Hehe
Buat temen-temen yang mau ikutan, coba langsung aja main ke tempat arma untuk ngecek lebih lanjut tentang kuis tersebut.

“Catatan Perjalanan: Popcorn’s 2nd Anniversary” 
Salah satu syarat wajib, harus masang banner ini :p

Wednesday, November 21, 2012

5cm Movie Trailer

Holaa!

Siang ini saya cuma mau quick update aja. Share ke temen-temen tentang trailer 5cm The Movie. Film yang di angkat dari novel best-seller karya mas Dhonny Dirgantoro.

The Poster.
- source -

Masih ingat sama Arial, Zafran, Ian, Genta, dan Riani? Tentunya para pembaca novel 5cm nggak bakalan lupa sama lima karakter diatas.

Sedikit cerita tentang pengalaman saya dengan novel ini..

Siang itu saya sedang ada di toko buku, sekitar jaman saya masih SMA, saya lihat novel ini di jajaran tumpukan novel berlabel best-seller. Saya bukan penikmat novel sebelumnya, akan tetapi waktu saya melihatnya, ntah apa yang menarik saya untuk mengambilnya dan membawanya pulang. Saya cuma berpikir, "Ah, novel ini ada di area best-seller, pasti bagus.", karena siang itu saya ke toko buku lagi kepingin cari sesuatu yang bisa di baca.

Singkat kata, setelah saya baca-baca dan saya menuntaskan satu novel yang menurut saya lumayan tebal, karena saya jaman-jaman itu masih bersahabat dengan komik, saya merasa novel ini 'cocok' dengan saya. Saya suka pemikiran dan jalan ceritanya, dan novel ini jugalah yang menginspirasi saya sampai sekarang. Mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Well, itu pendapat singkat saya tentang novel tersebut. Nah, saya seneng banget waktu denger kabar kalau novel ini mau di-film-kan. Pasti akan menggugah memori saya waktu jaman-jaman sekolah dahulu. Membayangkan apa yang diimajinasikan saat itu menjadi sebuah pertunjukkan nyata.

Satu hal yang saya harap, biasanya film-film berbasis novel akan mengalami sedikit perubahan. Semoga di film ini tidak mengalami banyak perubahan cerita dari novelnya. Karena jujur, ekspektasi saya tinggi sekali pada film ini. Semoga mas Rizal Mantovani nggak mengecewakan kami, para pembaca dan pencinta novel, mungkin juga untuk teman-teman pendaki yang juga suka dengan novel ini.

So, here we go..


Para pemain :
Fedi Nuril
Herjunot Ali
Igor 'Saykoji'
Denny Sumargo
Raline Shah
Pevita Pearce
Sutradara :
Rizal Mantovani
Film ini bakal diputer di bioskop di tanggal 12-12-2012. Tanggal bagus, ntah apa yg mendasari pemilihan tanggal tersebut. Apakah sekedar karena tanggal itu seragam? Ataukah ada maksud lain? Ah, saya tidak terlalu mempermasalahkannya, dan saya tidak terlalu peduli. :)

Friday, October 12, 2012

Trowulan, Majapahit


Perjalanan kali ini terjadi sekitar pertengahan tahun lalu waktu mendampingi rombongan dari salah satu universitas negeri dari surabaya ke kota Mojokerto.

Jadi ceritanya adalah, beberapa saat yg lalu saya dan temen-temen bikin tours organizer kecil-kecilan. Motivasinya cuman satu, jalan-jalan gratis!

Karena temen-temen se-geng pada suka jalan-jalan, tapi karena waktu itu jabatan kita mahasiswa, jadi masalah dana harus dipikirin bener-bener, untuk backpacking sekalipun, dan akhirnya ide ini keluar.
Jalan-jalan gratis yg malah dapet duit. Hehe

Kembali ke Mojokerto.

Perjalanan ke Mojokerto kali itu sebenernya adalah sekedar menemani, sebagai perwakilan kehadiran dari TO (tours organizer) yg kami bikin sendiri, karena deal  paket yg di setujui cuman ada di kendaraan aja.

Rute perjalanan kali ini adalah ngeliat situs-situs purbakala di mojokerto, karena universitas yg saya dampingin itu kedatangan tamu dari mancanegara. Inti perjalanan ini adalah nunjukin situs-situs purbakala yg ada, ke para tamu.

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang ini diyakini sebagai gapura pintu masuk ke ibukota Majapahit, namun sampai saat ini masih belum bisa dipastikan apakah ini pintu masuk ke daerah keraton atau hanyalah sebagai pintu masuk ke sebuah kompleks bangunan lain.

Bertipe candi bentar yg berarti gapura tanpa atap. Terbuat dari batu bata merah dengan ukuran tinggi keseluruhan bangunan 15.50 meter dan menghadap arah timur barat.

Candi Brahu

Candi yg satu ini merupakan satu-satunya bangunan suci yg masih tersisa utuh dari kawasan Bejijong. Dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat dilakukannya upacara kremasi empat raja pertama Majapahit, walaupun dugaan tersebut masih sulit dibuktikan.

Candi Tikus

Dinamakan Candi Tikus karena waktu ditemukan pada tahun 1914, tempat ini menjadi sarang tikus. Situs ini sebenarnya adalah kolam pemandian ritual (petirtaan). Sempat dipugar pada tahun 1985 dan 1989. Struktur utama yg menonjol dari sisi selatan diyakini mengambil dari bentuk gunung legendaris Mahameru.

Pintu masuk Maha Vihara Majapahit
Patung Budha Tidur

Salah satu hal yg menarik di tempat ini adalah patung Budha Tidur ini, saya sendiri tidak mengira bahwa ada patung seperti ini di Indonesia. Terletak di dalam komplek Maha Vihara Majapahit, Bejijong, Trowulan, Mojokerto.

Mungkin tidak banyak yg tahu kalo patung ini merupakan yg terbesar di Indonesia, dan di klaim terbesar ketiga selain Thailand dan Nepal. Patung yg memiliki panjang 22 meter, dengan lebar 6 meter dan tinggi 4.5 meter ini pada tahun 2001 masuk dalam buku catatan MURI.

Sebagai catatan, Maha Vihara ini terbuka untuk siapa saja yg ingin berkunjung. Bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Budha, tetapi juga sebagai objek wisata yg biasa di kunjungi berbagai kalangan. Biasanya ramai di kunjungi ketika tanggal merah atau waktu lebaran. 

Bule and the kids! :))
Satu lagi yg menarik, waktu rombongan sampai di kompleks Museum Trowulan, kami dicegat oleh satu kompi pasukan cilik yg kebetulan sedang berada di tempat mendahului kami. Para pasukan cilik ini antusias sekali karena tahu yg keluar dari bus adalah orang-orang bule, orang-orang yg mungkin selama ini hanya mereka lihat dari layar televisi saja. Jadinya, mereka langsung nodong untuk minta foto, nggak cuma pasukannya, para komandan (para ibu guru) juga ikut memprovokasi hal ini.

Dalam perjalanan kali ini saya merasa takjub, bahwa ada sisi lain dari negeri ini yg bahkan wisatawan mancanegara pun bisa sangat tertarik dan bahkan mereka menghargai, tetapi untuk para pribumi hal-hal seperti ini terkesan dikesampingkan. Terlihat dari antusias para bule-bule ini waktu mereka mendatangi tempat-tempat diatas.

Terus terang, saya menyukai sejarah. Mengunjungi tempat-tempat di atas membuat saya kembali ke masa lalu, membayangkan kemegahan kerajaan Majapahit yg konon katanya waktu itu sanggup menguasai area Asia Tenggara secara keseluruhan. 

Petualangan kali ini membuat saya berimajinasi, membayangkan, mereka-reka, bahkan terkadang tiba-tiba tersenyum sendiri seketika seperti memasuki dimensi yg lain, dimensi yg berbeda, kembali ke masa lalu ketika semua ini berawal.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya! :)

Tuesday, October 2, 2012

A Quick Getaway


"When motion tells more than just a still.."

2 hari 1 malam di pulau sempu.

Setelah beberapa saat yg lalu denger banyak cerita tentang keindahan Pulau Sempu, akhirnya saya memijakkan kaki juga disana. Berjarak sekitar 2-3 jam dari Kota Malang dengan kendaraan roda empat. Melewati gunung dan perbukitan.

Jadi Sempu itu adalah sebuah pulau di selatan Pulau Jawa yg kalau jaraknya ke Australia cuman 2 minggu perjalanan laut, kata bapak-bapak nelayan disitu.

Pulau Sempu berhadapan sama semacam pemukiman nelayan, yg nama daerahnya Sendang Biru.

Saran saya buat temen-temen yg belum pernah ke pulau sempu, sewa guide aja di pos perijinan di Sendang Biru. soalnya waktu kalian ijin bakal di tanyain apa udah pernah ke pulau sempu belum.

Sebenernya tujuan jelajah pulau sempu itu ke sebuah tempat berpasir yg bisa di bilang semi-pantai -menurut saya- yg di sebut segara anakan.

Segara Anakan itu sendiri seperti pantai kecil yg tersembunyi. Di bagian akhir video kalian bakal lihat, itu yg namanya Segara Anakan.

Oiya untuk nyebrang ke pulau sempu dari sendang biru, temen-temen bisa sewa kapal nelayan, nanti jangan lupa mintain nomer hapenya si bapak nelayan, atau janjian besoknya di jemput jam berapa waktu pulang. jangan sampai lupa, soalnya itu penting banget, kalo kalian nggak nyatet nomer si bapak ato nggak janjian, kalian nggak bakal bisa balik pulang.

segara anakan
Bisa sih, tapi nunggu ada rombongan lain yg balik pulang juga. Jadi kalian numpang, itu pun kalo masih ada tempat.

Pendapat saya tentang tempat ini, saya takjub sama keberadaannya yg tersembunyi. Di tempat seperti itu ada pasir putih yg menyenangkan. Toh walaupun begitu saya nggak begitu puas, I'm not a big fan of a water-place. Meskipun tetep, cita-cita ke tempat macam raja ampat, wakatobi, bunaken selalu menggoyahkan iman. Hehe. Saya pecinta pegunungan. :D

samudera hindia
So far yg seru adalah perjalanannya. Kalian lihat sendiri kan di video kalau perjalanan kakinya di tengah hutan. 3 jam tracking kalo saya nggak salah ingat, dan waktu tracking pulang, hujan gerimis menemani tracking kami.

nb:

Biaya-biaya :
- Sewa kapal PP : Rp 100.000
- Administrasi perijinan : seikhlasnya (saya waktu itu ngasih 20.000an sama temen-temen)
- Pintu masuk sendang biru : Rp 3000-5000an per orang (saya sedikit lupa, murah kok kawan, jgn sampe ditawar, jgn sampe nggak bayar yaa, itung-itung bantu melestarikan alam negara kita)
- Sewa guide : Rp 50.000